Senin, 06 Januari 2014

ANALISIS DAMPAK UJIAN NASIONAL 2013 TERHADAP PSIKOLOGIS PELAJAR SMA NEGERI 1 BANTAENG




KARYA TULIS ILMIAH



Oleh :
ANDI RINA AYU ASTUTI


SMA NEGERI 1 BANTAENG
KABUPATEN BANTAENG

2013


ANALISIS DAMPAK UJIAN NASIONAL 2013 TERHADAP PSIKOLOGIS PELAJAR
SMA NEGERI 1 BANTAENG





Karya Tulis Ilmiah Ini Disusun Untuk Mengikuti Lomba Karya Tulis
Dalam Rangka Hari Pendidikan Nasional




Oleh :
ANDI RINA AYU ASTUTI



SMA NEGERI 1 BANTAENG
KABUPATEN BANTAENG
2013









PEMERINTAH KABUPATEN BANTAENG
DINAS PENDIDIKAN DAN OLAHRAGA
SMA NEGERI 1 BANTAENG
Alamat: Jalan T.A. Gani No. 23 Telp. (0413) 21089 Bantaeng
 

Lembar Pengesahan
                                 Nomor :  420/082/SMA.01.BTG/IV/2013

Karya tulis dengan judul : Analisis Dampak Ujian Nasional 2013 Terhadap Psikologis Pelajar SMA Negeri 1 Bantaeng.
Yang ditulis oleh :

Andi Rina Ayu Astuti


Adalah asli dan belum pernah diikuti pada lomba karya tulis sejenis.



Disahkan di Bantaeng
Tanggal : 25 April 2013



Kepala Sekolah                                                          Pembimbing


Muhammad Amiluddin, S.Pd, M,si                          Herlina Wellang, S.Si, M,Pd
NIP. 19610515 198603 1 032                                   NIP. 19681407 200312 2 005







ABSTRAK

Andi Rina Ayu Astuti. 2013. Analisis Dampak Ujian Nasional 2013 Terhadap Psikologis Pelajar SMA Negeri 1 Bantaeng.
Pembimbing : Herlina Wellang

Ujian Nasional biasa disingkat UN adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Depdiknas di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003. Aturan ketat yang diterapkan dalam UN yakni kenaikan jumlah aket soal dan semakin ketatnya pengawasan juga dimaksudkan untuk membentuk kepercayaan masyarakat pada proses dan hasil UN. Tentu saja hal ini membuat para peserta didik yang akan mengikuti UN merasa cemas sehingga berdampak pada psikologis anak tersebut.
Karya tulis memberikan manfaat untuk memberikan informasi kepada pembaca yakni mengetahui dampak psikologis para peserta Ujian Nasional 2013 khususnya SMA Negeri 1 Bantaeng dengan membagikan kuisioner. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif serta teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik kualitatif dan kuantitatif .
Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa para siswa kebanyakan merasa khawatir tidak lulus Ujian Nasional dengan aturan yang semakin diperketat.. Ini membuktikan bahwa kenaikan paket soal pada Ujuan Nasional 2013 ini, berpengaruh terhadap mental psikologis siswa sebagai peserta Ujian Nasional. Kondisi psikologis tentunya mempengaruhi performa peserta ujian, yang pada gilirannya berimbas pada hasil ujian.

Kata kunci : Ujian Nasional, Psikologis










KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah  ini  dengan  judul  Analisis Dampak Ujian Nasional 2013 Terhadap Psikologis Pelajar SMA Negeri 1 Bantaeng.”. Shalawat dan salam kami junjungkan kepangkuan Nabi Muhammad saw beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.
Karya Tulis Ilmiah ini memaparkan tentang analisis pelaksanaan ujian nasional  tahun 2013 di SMA Negeri 1 Bantaeng, yang dimana pelaksanaan ujian nasional yang semakin diperketat mempengaruhi psikologis pelajar. Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang selama ini telah banyak memberikan pengarahan dan bimbingan, serta respon yang baik dalam mengisi angket. Baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian makalah ini.
Dalam penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan penyelesaian Karya Tulis Ilmiah  dimasa yang akan datang. Harapan penulis semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi penulis pribadi, dewan juri maupun pembaca, khususnya pemerintah Indonesia bidang pendidikan.

                                                                                     
                                                                                      Bantaeng, 25 April 2013      

                                                                                      Penulis




DAFTAR ISI
                                                                                                                  Halaman
HALAMAN JUDUL.............................................................................................. ii
LEMBAR PENGESAHAN................................................................................... iii
ABSTRAK............................................................................................................ iv
KATA PENGANTAR............................................................................................v
DAFTAR ISI......................................................................................................... vi
BAB I    PENDAHULUAN................................................................................... 1
A.          Latar Belakang ............................................................................... 1
B.           Rumusan Masalah........................................................................... 2
C.           Tujuan Penelitian ............................................................................ 2
D.          Manfaat Penelitian .......................................................................... 2
BAB II  TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 3
A.            Kajian Teori ................................................................................... 3
B.            Kerangka Pikir .............................................................................. 10
BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................ 11
A.          Metode Penelitian .......................................................................... 11
B.           Waktu dan Tempat  ....................................................................... 11
C.           Populasi dan Sampel...................................................................... 11
D.          Teknik Pengumpulan Data............................................................. .12
E.           Teknik Analisis Data...................................................................... .12
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN................................................................ 13
A.            Hasil .............................................................................................. 13
B.            Pembahasan ................................................................................... 20
BAB V  PENUTUP ............................................................................................... 21
A.           Kesimpulan .................................................................................... 21
B.            Saran ............................................................................................. 21
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 22
DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................... 23









BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ujian Nasional (UN) adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional serta persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Depdiknas di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggunakan 20 paket soal dalam pelaksanaan ujian nasional (UN) tahun 2013. Jumlah ini bertambah banyak daripada pelaksanaan UN di tahun sebelumnya.
Pemerintah beralasan, penggunaan 20 paket soal itu bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan kredibilitas hasil UN. Dengan bertambah banyaknya jenis soal dalam UN, potensi tindak kecurangan akan semakin sempit. Pasalnya, masing-masing siswa akan mengerjakan soal berbeda karena umumnya setiap ruang ujian diisi oleh 20 peserta ujian.
Sejalan dengan itu, aturan ketat yang diterapkan dalam UN juga dimaksudkan untuk membentuk kepercayaan masyarakat pada proses dan hasil UN karena pemerintah berencana mengintegrasikan hasil UN tingkat SMA sebagai tiket masuk ke perguruan tinggi negeri. Tentu saja hal ini membuat para peserta didik yang mengikuti UN merasa cemas sehingga berdampak pada psikologis anak tersebut. Hasil studi yang dilakukan Iwan Syahril, seorang mahasiswa pascasarjana di Teachers College, Universitas Columbia pada tahun 2007 menyebutkan dampak-dampak buruk UN di Indonesia terhadap siswa dan guru. Pertama, siswa menderita masalah psikologis yang serius. Banyak siswa mengalami kecemasan saat ujian, dan banyak yang merasa frustasi karena gagal ujian. Kondisi psikologis siswa saat menempuh ujian tidaklah sama satu dengan yang lain. Kecemasan tentunya mempengaruhi performa peserta ujian, yang pada gilirannya berimbas pada hasil ujian. Tekanan psikologis inilah yang rupanya tidak diperhitungkan oleh penyelenggara ujian nasional.
Maka dari itu, dalam karya tulis ilmiah ini penulis mencoba melakukan penelitian untuk mengetahui analisis dampak psikologis pelajar SMA Negeri 1 Bantaeng terhadap pelaksanaan Ujian Nasional 2013.


B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penulisan ini adalah bagaimana dampak ujian nasional tahun 2013 terhadap psikologis pelajar SMA Negeri 1 Bantaeng ?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan karya tulis ini yaitu untuk mengetahui dampak ujian nasional tahun 2013 terhadap psikologis pelajar SMA Negeri 1 Bantaeng.

D.    Manfaat Penelitian
Manfaat yang akan dicapai dari penelitian ini yaitu :
1.      Bagi Pelajar
Untuk memberikan motivasi agar belajar lebih giat dalam menghadapi tantangan pendidikan di masa yang akan datang.
2.      Bagi Sekolah
Untuk memberikan informasi mengenai pelaksanaan ujian nasional tahun 2013 terhadap psikologis pelajar SMA Negeri 1 Bantaeng.
3.      Bagi Pemerintah
Untuk memberikan usulan dan pertimbangan mengenai sistem pendidikan kedepan di Indonesia terutama dalam pelaksaan Ujian Nasional.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Kajian Teori
1.      Ujian Akhir Nasional ( UN )
a.       Pengertian Ujian Akhir Nasional
Ujian Nasional atau biasa disingkat UN adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Depdiknas di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Lebih lanjut dinyatakan bahwa evaluasi dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan.
Penentuan standar yang terus meningkat diharapkan akan mendorong peningkatan mutu pendidikan, yang dimaksud dengan penentuan standar pendidikan adalah penentuan nilai batas (cut off score). Seseorang dikatakan sudah lulus/kompeten bila telah melewati nilai batas tersebut berupa nilai batas antara peserta didik yang sudah menguasai kompetensi tertentu dengan peserta didik yang belum menguasai kompetensi tertentu. Bila itu terjadi pada ujian nasional atau sekolah maka nilai batas berfungsi untuk memisahkan antara peserta didik yang lulus dan tidak lulus disebut batas kelulusan, kegiatan penentuan batas kelulusan disebut standard setting.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 66 menyebutkan bahwa UN adalah salah satu bentuk penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh pemerintah, bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan teknologi. Hal ini sedikit berbeda dengan penilaian hasil belajar di perguruan tinggi, yang proses penilaiannya hanya dilakukan oleh pendidik dan satuan pendidikan (perguruan tinggi) yang bersangkutan. Jika pada perguruan tinggi saja penilaian bisa dilakukan oleh dosen dan perguruan tinggi yang bersangkutan saja, maka tidak akan ada masalah berarti jika saja UN dihapuskan, karena pada tingkatan perguruan tinggi pun penilaian yang dilakukan oleh pendidik dan perguruan tinggi yang bersangkutan sudah representatif untuk mengetahui penguasaan kompetensi lulusan.
Untuk melakukan pemetaan mutu pendidikan secara nasional, pemerintah pusat bisa berkoordinasi dengan pemerintah daerah, karena satuan pendidikan (sekolah) biasanya melakukan pelaporan hasil belajar siswa secara berkala kepada dinas pendidikan yang menaungi sekolah tersebut. Selain itu pemerintah pusat punya badan khusus yang disebut dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yaitu badan mandiri dan independen yang bertugas mengembangkan, memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi standar nasional pendidikan. Standar nasional pendidikan yang ditetapkan BSNP yang terdiri dari standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan adalah acuan bersama satuan pendidikan dalam mengelola proses pembelajarannya.  (Balitbang Dikbud, 1994)

b.      Mata Pelajaran yang Diujikan
Untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), ada 6 mata pelajaran yang diujikan tergantung penjurusannya :
Penjurusan
Mata pelajaran
utama
Mata pelajaran
karakteristik penjurusan
IPA
Bahasa Indonesia
Bahasa Inggris
Matematika
Sastra Indonesia, sejarah
Bahasa asing pilihan (
Bahasa Mandarin, Bahasa Jepang, Bahasa Jerman, Bahasa Perancis, Bahasa Arab)
Ilmu Tafsir, Ilmu Hadist, Ilmu Kalam
Kejuruan
Sejarah, Teori Kejuruan, Praktek Kejuruan

c.       Manfaat dan Tujuan Ujian Nasional
Manfaat standar setting ujian nasional, diantaranya: adanya batasan kelulusan setiap mata pelajaran sesuai dengan tuntutan kompetensi minimum dan adanya standar yang sama untuk setiap mata pelajaran sebagai standar minimum pencapaian kompetensi. Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa, dilakukan penilaian secara sistematis. Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan, penilaian dilakukan oleh pendidik secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Satuan pendidikan atau sekolah juga harus melakukan penilaian kepada siswa untuk menilai pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL) semua mata pelajaran melalui ujian sekolah.
Adapun tujuan penyelenggaraan UN adalah menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu  dalam kelompok ilmu pengetahuan dan teknologi. Diharapkan dengan tercapainya target nilai lulusan dapat mengantarkan siswa menjadi lulusan yang unggul di masa kini dan masa depan.

2.      Psikologis
Menurut Nursalam (2005), Psikologis merupakan hal yang merupakan kepribadian dan kemampuan individu dalam memanfaatkannya menghadapi stress yang disebabkan situasi dan lingkungan. Psikologis merupakan faktor yang berasal dari dalam individu seseorang dan unsur-unsur psikologis ini meliputi motivasi, persepsi, pembelajaran, kepribadian, memori, emosi, kepercayaan, dan sikap. Sedangkan psikologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku dan pola pikir, yang berusaha mengendalikan peristiwa mental dan tingkah laku manusia
Banyak ilmuan dan dokter menemukan bahwa teknologi dapat menganalisa keadaan psikologis dan emosional seseorang. Tanpa kita sadari bahwa sebenarnya reaksi emosional merupakan reaksi energi terhadap suatu persepsi karena setiap orang memiliki persepsi psikologis tentang diri dan lingkungannya dimana persepsi ini menjadi suatu proses mental, membentuk karakteristik impuls suatu proses mental serta pembentukan karakteristik.


3.      Tinjauan Kondisi Psikologis Siswa (i) dalam Menghadapi Ujian Nasional
Kondisi psikologis siswa bermacam-macam dalam menghadapi Ujian Nasional, hal ini disebabkan adanya dinamika psikis yang berbeda-beda dalam diri siswa. Siswa yang dinamika psikisnya baik tidak mengalami kecemasan atau ketakutan dalam menghadapi ujian nasional. Sebaliknya siswa yang dinamika psikisnya tidak baik akan mengalami kecemasan atau ketakutan dalam menghadapi Ujian Nasional.
Dinamika psikis adalah energi kejiwaan yang menggerakkan, yang penuh dinamika , yang akan membawa dan menuju sukses dalam menghadapi Ujian Nasional. Energi adalah kemampuan untuk bertindak. Energi merupakan ketetapan hati yang tidak tampak yang dimiliki oleh setiap orang untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan hati mereka. Dalam diri siswa terdapat dua macam energi yaitu energi fisik dan energi psikis. Energi psikis jauh lebih penting dari energi fisik,karena dari alam bawah sadar yang dapat menimba banyak daya dan kekuatan disaat dibutuhkan. Formula untuk menghimpun yang dinamis.( Pendidikan Karakter, 2012)     
Ditinjau dari segi energi, siswa yang kondisi psikologisnya mengalami kecemasan atau ketakutan, siswa tersebut sedang mengalami kehidupan keredupan energi psikis dirinya, ibarat lampu yang kehilangan pancaran sinarnya, padahal sinar itu mengandung makna bagi dirinya sendiri dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, konselor melalui layanan konseling menfokuskan untuk mengaktifkan dan membangun energi psikis yang ada pada diri siswa untuk sebesar-besarnya kemanfaatan bagi diri sendiri dan lingkungannya terkait dengan kesuksesan ujian nasional yang jujur dan akuntabel. .( Pendidikan Karakter, 2012)      
Kondisi psikologis dalam bentuk kecemasan akan terus meningkat seiring dengan pesatnya kemajuan peradaban material serta jauhnya manusia dari pemahaman dan pengamalan ajaran-ajaran Allah swt. Masalah kecemasan atau ketakutan merupakan suatu titik temu, yang menghubungkan semua jenis pertanyaan penting, suatu teka teki dimana solusi memberikan kejelasan terhadap keseluruhan kehidupan mental siswa.
Siswa yang sedang mengalami kecemasan atau ketakutan adalah siswa yang sedang bermasalah dan sedang berada dalam keadaan tertekan, tidak berdaya. Dalam keadaan seperti ini siswa mudah terjajah oleh kekuatan-kekuatan yang merasuk ke dalam dirinya yang dapat semakin melemahkan dan menimbulkan berbagai kerusakan dirinya dan kegagalam dalam menghadapi ujian nasional. Siswa yang bermasalah adalah siswa terjajah. Potensi dan energi dirinya tidak berkembang atau tidak bersinar. Rasa aman siswa terganggu, kompetensi tidak bisa berfungsi, aspirasi terkungkung, semangat belajar layu, dan kesempatan yang terbuka baginya untuk sukses akan terbuang.  
Siswa yang dinamika psikisnya baik, tidak mengalami kecemasan atau ketakutan dalam menghadapi Ujian Nasional, dimungkinkan karena sudah menguasai materi pembelajaran yang akan di Uji Nasional-kan, penuh percaya diri, penuh rasa kemenangan, dan keberhasilan, serta siap menghadapi kenyataan. Sedangkan siswa yang dinamika psikisnya tidak baik akan mengalami kecemasan atau ketakutan dalam menghadapi Ujian Nasional, dimungkinkan karena tidak menguasai materi pembelajaran yang akan di Uji Nasional-kan, tidak percaya diri, tidak bisa menghadapi kenyataan, tidak memiliki kesiapan mental dan phisik dalam menghadapi Ujian Nasional, menganggap bahwa Ujian Nasional merupakan  hal yang menakutkan, serta pembelajaran disekolah dianggap belum mencukupi untuk membekali dirinya dalam menghadapi Ujian Nasional. Jadi dapat dikatakan bahwa kecemasan merupakan perlindungan terhadap ketakutan menghadapi ujian nasional.


4.      Gejala Perilaku Kecemasan
Gejala perilaku siswa yang mengalami kecemasan atau ketakutan dalam menghadapi ujian nasional, antara lain gejala phisik, gejala psikis, dan gejala sosial. Gejala phisik meliputi peningkatan detak jantung, perubahan pernafasan (nadi dan pernafasan meningkat), keluar keringat, gemetar, kepala pusing, mual, lemah, ngeri, sering buang air besar dan kencing, nafsu makan menurun, tekanan darah ujung jari terasa dingin dan lelah. Gejala psikis meliputi perasaan akan adanya bahaya, kurang percaya diri, kurang tenaga/tidak berdaya, khawatir, rendah diri, tegang, tidak bisa konsentrasi, kesempitan jiwa, ketakutan, kegelisahan, berkeluh kesah, kepanikan, tidur tidak nyenyak, berdosa, terancam dan kebingungan/linglung. Gejala sosial meliputi mencari bocoran soal, mencari kunci jawaban, menyontek, menyalahkan soalnya sulit, dan menyalahkan gurunya belum pernah mengajarkan materi yang diujikan.
Kecemasan merupakan kondisi psikologis dan bagian dari kehidupan manusia. Setiap manusia pernah mengalami kondisi psikologis ini. Kecemasan sering muncul pada orang yang dianggap normal, meskipun kecemasan merupakan simtom semua psikopathologi terutama neurotik. Kecemasan dan ketakutan biasa merasuki manusia, baik secara individual maupun komunal, sejak mereka memiliki kesadaran, kecuali orang yang dikasihi Allah dan diberi nikmat keimanan.
Kondisi psikologis dalam bentuk kecemasan akan terus meningkat seiring dengan pesatnya kemajuan peradaban material serta jauhnya manusia dari pemahaman dan pengamalan ajaran-ajaran Allah swt. Masalah kecemasan atau ketakutan merupakan suatu titik temu, yang menghubungkan semua jenis pertanyaan penting, suatu teka teki dimana solusi memberikan kejelasan terhadap keseluruhan kehidupan mental siswa. Kecemasan merupakan buah kesulitan yang dibayar di muka, sebelum kesulitan itu sendiri terjadi. Kecemasan pada dasarnya bersifat merusak dan menghancurkan. Cara mengusir kecemasan adalah dengan menghalaunya dari pikiran dan menggantinya dengan pikiran spiritual yang positif.
Kecemasan atau ketakutan dapat berkembang dalam intensitas yang begitu besar dan sebagai konsekuensinya dapat menjadi penyebab bagi tindakan pencegahan yang berlebihan. Kecemasan yang disebabkan oleh neurosis kecemasan akibat gelisah (nervous anxiety) dalam menghadapi ujian nasional akan merugikan diri siswa untuk berkonsentrasi dalam belajar. Kata ”gelisah” dan ”cemas” digunakan saling menggantikan, seolah-olah mereka mempunyai arti yang sama. Bagaimanapun juga ada orang-orang yang sering cemas namun tidak gelisah dan selain itu ada orang-orang yang terserang neurotik dengan sejumlah gejala-gejala yang tidak menunjukkan kecenderungan untuk takut.
Kecemasan atau ketakutan yang dialami oleh siswa dalam menghadapi ujian nasional menurut teori Freud dinamakan adalah sebagai kecemasan obyektif (objective anxiety). Ketakutan riil bagi kita terlihat sebagi suatu hal yang sangat rasional dan alami. Hal ini kita sebut sebagai reaksi terhadap persepsi bahaya eksternal yaitu Ujian Nasional yang dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan. Kemunculan kecemasan akan sangat tergantung pada seberapa besar pengetahuan dan penguasaan materi Ujian Nasional dikuasai oleh seorang siswa. Pada kesempatan yang lain, pengetahuan sendirilah yang mengakibatkan kecemasan karena ia memperlihatkan adanya bahaya dengan lebih cepat. Jadi siswa akan terlihat ketakutan melihat dirinya tidak siap menghadapi ujian nasional yang akan menjadi salah satu penentu kelulusan siswa dari sekolah.


B.     Kerangka Pikir
PELAKSANAAN UJIAN NASIONAL 2013

20 Paket
Pengawasan diperketat
Psikologis Pelajar
mempengaruhi
 











BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif yaitu metode menganalisis data dengan cara menggambarkan data yang sudah terkumpul. Metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan kondisi psikologis peserta didik terhadap penambahan jumlah paket soal Ujian Nasional menjadi 20 paket.
B.     Waktu  dan  Tempat  Penelitian
Waktu yang digunakan untuk menyebarkan kuesioner yaitu pada hari Sabtu, 13 April 2013. Pukul 08:00 wita – 12:00 wita yang bertempat di lingkungan SMA Negeri 1 Bantaeng.  

C.    Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Menurut Sugiyono ( 2003:90 ) “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subjek/objek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.
Berdasarkan pengertian tersebut, maka populasi dalam penelitian ini yaitu beberapa siswa kelas XII baik jurusan IPA maupun IPS di SMA Negeri 1 Bantaeng.
2.      Sampel
Sampel adalah sebagian dari totalitas subjek penelitian atau sebagaian  populasi yang diharapkan dapat mewakili karakteristik populasi yang populasi penetapannya dengan teknik tertentu (Ismiyanto).
Berdasarkan pengertian di atas sampel yang diperoleh peneliti yaitu 40 orang siswa SMA Negeri 1 Bantaeng.

D.    Teknik Pengumpulan Data       
Teknik pengumpulan data yang kami gunakan yaitu penyebaran kuisioner. Kuisioner adalah suatu teknik pengumpulan informasi yang memungkinkan analis mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku dan karakteristik beberapa orang di dalam organisasi yang bisa terpengaruh oleh sistem yang diajukan atau oleh sistem yang sudah ada.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data melalui penyebaran kuisioner kepada 40 responden.

E.     Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik kualitatif dan kuantitatif . Teknik analisis kualitatif yaitu teknik analisa data yang menggambarkan suatu objek penelitian dengan skala ukur  yang berupa penggambaran nalar tanpa disertai statistika sedangkan teknik analisa kuantitatif yaitu teknik analisa dengan menganalisa data yang menggunakan angka-angka atau numerik dalam data.












BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    HASIL

Berdasarkan hasil kuisioner yang telah diberikan secara acak kepada beberapa pelajar kelas XII SMA Negeri 1 Bantaeng, penulis dapat memperoleh data sebagai berikut.

Tabel 4.1. Pengaruh kenaikan jumlah paket soal UN terhadap mental siswa
Jawaban
Responden (orang)
Presentase (%)
Sangat tidak setuju
2
5 %
Tidak setuju
4
10 %
Ragu-ragu
11
27,5 %
Setuju
20
50 %
Sangat setuju
3
7,5 %
Jumlah
40
100 %

Berdasarkan tabel 4.1 diatas. Ternyata 20 orang sebanyak 50 % di antara 40 responden memilih setuju terhadap hal tesebut selebihnya memilih masing-masing jawaban 3 (7,5%) sangat setuju, 2 (5%) sangat tidak setuju, 11 (27,5%) ragu-ragu, dan 4 (10%) tidak setuju.

Tabel 4.2. Kekhawatiran tidak lulus UN karena penambahan paket soal
Jawaban
Responden (orang)
Persentase (%)
Sangat tidak yakin
5
12,5 %
Tidak yakin
12
30 %
Ragu-ragu
23
57,5 %
Yakin
-
0 %
Sangat yakin
-
0 %
Jumlah
40
100 %








Berdasarkan tabel 4.2 diatas, kebanyakan dari mereka menjawab ragu-ragu (57,5%) mengenai kekhawatiran tidak lulus UN dengan penambahan jumlah paket soal, menandakan belum ada keyakinan lulus bagi siswa peserta UN.

Tabel 4.3. Strategi menghadapi UN
Jawaban
Responden (orang)
Persentase (%)
Belajar tambahan (les)
34
85 %
Membuat kelompok belajar
-
0 %
Mengerjakan soal-soal (kisi-kisi) sendirian
2
5 %
Masa bodoh
2
5 %
Yang lain …(try out online)
2
5 %
Jumlah
40
100 %

Berdasarkan tabel 4.3 diatas, diketahui bahwa mereka lebih banyak memilih belajar tambahan (85%) sebagai salah satu strategi mereka dalam menghadapi ujian nasional agar dapat mempersiapkan diri lebih baik dengan penambahan ilmu.

Tabel 4.4. Mata pelajaran yang diragukan mencapai nilai kelulusan
Jawaban
Responden (orang)
Persentase
Matematika
35
87,5 %
Bahasa Inggris
-
0 %
Bahasa Indonesia
-
0 %
Yang lain …...(kimia)
5
12,5 %
Jumlah
40
100%


Berdasarkan tabel 4.4 diatas, sebanyak 35 orang (87,5%) responden menyatakan bahwa mata pelajaran matematika yang menurut mereka meragukan untuk mencapai nilai kelulusan sedangkan 5 orang diantaranya memilih mata pelajaran kimia.

Tabel 4.5. Pendapat terhadap penambahan paket soal UN
Jawaban
Responden (orang)
Presentase (%)
Sangat tidak setuju
36
90 %
Tidak setuju
2
5 %
Ragu-ragu
2
5 %
Setuju
-
0 %
Sangat setuju
-
0 %
Jumlah
40
100 %

Berdasarkan tabel 4.5 diatas, diketahui 36 orang  (90%) menjawab sangat tidak setuju, 2 orang (5%) tidak setuju dan 2 orang (5%) ragu-ragu. Hal ini membuktikan bahwa kebanyakan responden tidak setuju bahkan sangat tidak setuju terhadap keputusan pemerintah menambah jumlah paket soal.

Tabel 4.6. Hambatan menghadapi UN
Jawaban
Responden (orang)
Persentase (%)
Jumlah paket bertambah
5
12,5 %
Sulitnya soal
3
7,5 %
Ketatnya pengawasan
2
5 %
Kurangnya minat belajar
27
67,5 %
Stress
3
7,5 %
Jumlah
40
100 %


Berdasarkan tabel 4.6 diatas, terdapat  5 orang (12,5%) memilih bertambahnya paket soal, 3 orang (7,5%) memilih sulitnya soal, 27 orang (67,5 %) memilih kurangnya minat belajar, 2 orang (5%) memilih ketatnya pengawasan dan sisanya karena stress sebanyak 3 orang (7,5%). Hal ini membuktikan bahwa kebanyakan responden mengaku bahwa hambatan mereka adalah karena minat belajar mereka yang kurang.

Tabel 4.7. Perasaan dalam menghadapi UN
Jawaban
Responden (orang)
Persentase (%)
Stress
2
5 %
Takut
-
0 %
Was-was
36
90 %
Biasa saja (santai)
2
5 %
Jumlah
40
100 %

Berdasarkan tabel 4.7 diatas, diketahui bahwa 36 orang (90%) merasa was-was, 2 orang (5%) menganggapnya biasa saja dan 2 orang (5%) merasa stress. Jadi dapat disimpulkan bahwa kebanyakan dari mereka was-was menghadapi ujian nasional tahun ini.

Tabel 4.8. Tanggapan orang tua siswa terhadap UN
Jawaban
Responden (orang)
Presentase (%)
Sangat tidak setuju
-
0 %
Tidak setuju
30
75 %
Ragu-ragu
4
10 %
Setuju
6
15 %
Sangat setuju
-
0 %
Jumlah
40
100 %

Berdasarkan tabel 4.8 diatas, diketahui bahwa kebanyakan orang tua siswa tidak setuju dengan pelaksanaan ujian nasional (75%), sisanya ragu-ragu dan setuju.

Tabel 4.9. Keyakinan sukses dalam UN
Jawaban
Responden (orang)
Presentase (%)
Sangat tidak yakin
3
7,5 %
Tidak yakin
-
                                                                                                                 0 %
Ragu-ragu
2
5 %
Yakin
31
77,5 %
Sangat yakin
4
10 %
Jumlah
40
100 %

Berdasarkan tabel 4.9 diatas, diketahui bahwa kebanyakan mereka yakin dapat sukses dalam ujian nasional hal ini menandakan bahwa mereka telah melakukan persiapan dalam menghadapi ujian.

Tabel 4.10. Tanggapan siswa terhadap rencana pemerintah mengintegrasikan hasil UN sebagai tiket masuk PTN
Jawaban
Responden (orang)
Presentase (%)
Sangat tidak setuju
12
30 %
Tidak setuju
1
2,5 %
Ragu-ragu
25
62,5 %
Setuju
1
2,5 %
Sangat setuju
1
2,5 %
Jumlah
40
100 %


Berdasarkan tabel 4.10 diatas, diketahui bahwa kebanyakan di antara siswa masih ragu-ragu dalam berpendapat mengenai hal tersebut. Sisanya 12 orang (30%) sangat tidak setuju, 1 orang (2,5%) tidak setuju, 1 orang (2,5%) setuju, dan 1 orang (2,5%) lagi sangat setuju.
Tabel 4.11. Dampak tingkat kesulitan soal terhadap mental selama mengerjakan soal
Jawaban
Responden (orang)
Persentase (%)
Ya
37
92,5 %
Tidak
3
7,5 %
Jumlah
40
100 %

Berdasarkan tabel 4.11 diatas, diketahui sebanyak 37 orang (92,5%) menyatakan tingkat kesulitan soal berpengaruh terhadap mental mereka selama mengerjakan soal sedangkan sisanya menyatakan tidak sebanyak 3 orang (7,5%).
Tabel 4.12. Pengawasan yang ketat membuat siswa tertekan selama mengerjakan soal
Jawaban
Responden (orang)
Persentase (%)
Ya
30
75 %
Tidak
10
25 %
Jumlah
40
100 %

Berdasarkan tabel 4.12 diatas, setelah kami memberikan kuisioner kepada 40 orang responden mengenai pengawasan yang ketat membuat siswa tertekan selama mengerjakan soal diketahui bahwa mereka kebanyakan merasa tertekan dengan hal tersebut.

Tabel 4.13. Kecurangan seperti menyontek dan sebagainya dapat terhindarkan dengan soal ujian 20 paket
Jawaban
Responden (orang)
Presentase (%)
Sangat tidak yakin
15
37,5 %
Tidak yakin
-
0                                                                                                                 0 %
Ragu-ragu
20
50 %
Yakin
5
12,5 %
Sangat yakin
-
0 %
Jumlah
40
100 %

Berdasarkan tabel 4.14 di atas, diketahui bahwa kebanyakan mereka masih ragu-ragu dengan hal tersebut.














B.        PEMBAHASAN

Ujian nasional dianggap bagaikan momok menakutkan bagi sebagian siswa SMA yang akan menghadapinya. Ditambah lagi dengan peningkatan jumlah paket soal dari tahun sebelumnya yang hanya 5 paket soal, tahun ini menjadi 20 paket soal. Artinya dalam satu ruangan yang terdiri dari 20 orang siswa dengan paket soal sebanyak 20 menandakan masing-masing siswa akan mengerjakan soal yang berbeda satu sama lainnya. Pemerintah melakukan panambahan paket soal dengan alasan karena banyaknya laporan yang menyatakan bahwa dalam praktik pelaksanaan ujian nasional sering terjadi kecurangan. Kecurangan-kecurangan tersebut di antaranya menyontek, mendapatkan kunci jawaban maupun bocoran soal.
Hal ini yang akan mencoreng dunia pendidikan Indonesia sehingga semakin terpuruk karenanya pemerintah melakukan berbagai hal untuk mengantisipasi hal tersebut. Pemerintah juga akan melakukan pengawasan pelaksanaan ujian nasional secara lebih ketat. Dan menurut rencana, pemerintah pun akan mengintegrasikan hasil ujian nasional sebagai bahan pertimbangan untuk dapat masuk perguruan tinggi negeri.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari hasil data kuisioner yang disebarkan kepada 40 orang responden, terdapat 50% siswa setuju bahwa kenaikan jumlah paket soal Ujian Nasional berpengaruh terhadap mental mereka dan 57,5% siswa yang mengalami kekhawatiran tidak lulus Ujian Nasional dengan penambahan jumlah paket soal. Ini membuktikan bahwa kenaikan paket soal pada Ujuan Nasional 2013 ini, berpengaruh terhadap mental psikologis mereka sebagai peserta Ujian Nasional.
Psikologis merupakan hal yang mempengaruhi keadaan jiwa dalam menghadapi stress yang disebabkan situasi dan lingkungan. Kondisi psikologis tentunya mempengaruhi performa peserta ujian, yang pada gilirannya berimbas pada hasil ujian. Tekanan psikologis inilah yang rupanya tidak diperhitungkan oleh penyelenggara ujian nasional.






BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan penelitian mengenai pelaksanaan Ujian Nasional 2013 di SMA Negeri 1 Bantaeng terhadap beberapa siswa kelas xii, dapat disimpulkan bahwa para siswa merasa khawatir tidak lulus Ujian Nasional dengan aturan yang semakin diperketat yakni penambahan jumlah paket soal. Ini membuktikan bahwa kenaikan paket soal pada Ujuan Nasional 2013 ini, berpengaruh terhadap mental psikologis mereka sebagai peserta Ujian Nasional. Kondisi psikologis tentunya mempengaruhi performa peserta ujian, yang pada gilirannya berimbas pada hasil ujian.
B.     Saran
Dalam penelitian ini, terdapat saran yang ingin penulis berikan, yaitu :
1.      Bagi pemerintah, berdasarkan hasil penelitian yang kami lakukan hendaklah dapat menjadi pertimbangan bagi pemerintah dalam pelaksaan Ujian Nasional kedepannya.
2.      Bagi masyarakat selaku orang tua, berdasarkan hasil penelitian kami diharapkan agar adanya dukungan terhadap siswa yang akan mengikuti ujian.
3.      Bagi siswa, hendaknya mengurangi rasa stress agar dalam pelaksanaan ujian nasional nanti tidak mendapat hambatan sehingga dapat lulus dengan nilai terbaik.










DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Defenisi Psikologis. (Online)
http://id.wikipedia.org. (Diakses pada  tanggal 23 Desember 2012 )
Anonim. 2012. Pendidikan Karakter. (Online)
http://pend-karakter.blogspot.com. (Diakses pada tanggal 23 Desember 2012 )
Anonim.2012. Tujuan UN. (Online)
http://www.sarjanaku.com.  (  Diakses tanggal 23 Desember 2012 )
Anonim. Ujian Nasional. (Internet)
http://id.wikipedia.org. ( Diakses pada tanggal 23 Desember 2012)
Gunarsa, Singgih. 2010. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: Laskar.
Rustinah. 2010. Ujian Nasional. (Online)
http://rustinah.multiply.com. (Diakses tanggal 23 Desember 2012 )












LAMPIRAN ANGKET
ANGKET PENELITIAN

Nama :
Kelas :

1.      Apakah kenaikan paket menjadi 20 paket pada tahun ini berpengaruh terhadap mental anda?
a.       Sangat tidak setuju
b.      Tidak setuju
c.       Ragu-ragu
d.      Setuju
e.       Sangat  setuju

2.      Adakah kekhawatiran bahwa anda tidak lulus Ujian Nasional karena banyaknya paket soal ?
a.       Sangat tidak yakin
b.      Tidak yakin
c.       Ragu-ragu
d.      Yakin
e.       Sangat  yakin

3.      Apa yang anda lakukan untuk menghadapi Ujian Nasional dengan nilai standar yang semakin tinggi  dan paket 20 soal?

a.       Belajar tambahan ( les)
b.      Membuat Kelompok Belajar
c.       Mengerjaan Soal -  Soal ( Kisi-Kisi) Sendirian
d.      Masa bodoh
e.       Yang lain ...............

4.      Mata pelajaran apa yang anda ragukan tidak dapat mencapai nilai kelulusan?
a.       Matematika
b.      Bahasa Inggris
c.       Bahasa Indonesia
d.      Yang Lain........

5.      Setujukah anda terhadap penambahan soal uan tahun ini dengan tahun sebelumnya?
a.       Sangat tidak setuju
b.      Tidak setuju
c.       Ragu-ragu
d.      setuju
e.       Sangat setuju

6.      Apa hambatan anda dalam menghadapi ujian nasional?
a.       Semakin Bertambahnya paket soal
b.      Soal semakin sulit
c.       Pengawasan semakin ketat
d.      Kurangnya minat belajar
e.       Stress

7.      Bagaimana perasaan anda dalam menghadapi Ujian Nasional ?
a.       Stess
b.      Takut
c.       Was was
d.      Biasa Saja ( Santai)

8.      Bagaimana tanggapan orang tua anda terhadap pelaksanaan UAN tahun ini?
a.       Sangat tidak setuju
b.      Tidak setuju
c.       Ragu-ragu
d.      setuju
e.       Sangat setuju

9.      Apakah anda yakin  dapat suskes dalam ujian nasional tahun ini ?
a.       Sangat tidak yakin
b.      Tidak yakin
c.       Ragu-ragu
d.      Yakin
e.       Sangat yakin

10.  Setujukah anda terhadap rencana pemerintah mengintekgrasikan hasil Uan sebagai tiket masuk PTN?
a.       Sangat tidak setuju
b.      Tidak setuju
c.       Ragu-ragu
d.      setuju
e.       Sangat Setuju

11.  Bagaimana perasaan anda setelah mengikuti Ujian hari pertama ?
a.       Stress
b.      Takut
c.       Was was
d.      Biasa Saja ( Santai)

12.  Apakah ujian nasional ini sangat membebani anda ?
a.       Ya
b.      Tidak

13.  Apakah tingkat kesulitan soal berpengaruh terhadap mental anda selama mengerjakan soal?
a.       Ya
b.      Tidak

14.  Apakah pengawasan yang ketat membuat anda tertekan selama mengerjakan soal ?
a.       Ya
b.      Tidak

15.  Apakah kecurangan seperti menyontek dsb dapat terhindarkan dengan soal ujian 20 paket ?
a.       Sangat tidak yakin
b.      Tidak yakin
c.       Ragu-ragu
d.      Yakin
e.       Sangat  yakin






















LAMPIRAN
BIODATA

Nama                           :           Andi Rina Ayu Astuti
Kelas                           :           XI
Sekolah                       :           SMA Negeri 1 Bantaeng
Alamat                        :           Jl. Elang Baru
Tempat tanggal lahir   :           Bulukumba, 17 September 2013
Cita-cita                      :           Dokter dan Dosen
Hobi                            :           Menulis dan olahraga
Foto                             :